Sebuah
film baru tentang pengusiran setan, saat ini sedang menjadi bahan
tontonan dan perbincangan, tak terkecuali bagi orang Katolik. Film
berjudul The Exorcism of Emily Rose (TEER) berkisah tentang exorsisme
(pengusiran setan) terhadap gadis berusia 20 tahun, bernama Emily Rose.
Seorang pastor bernama Richard Moore yang berniat baik menolong Emily
dan melakukan praktik eksorsisme justru dianggap lalai hingga diajukan
ke pengadilan. Kematian Emily Rose yang misterius menimbulkan
pertanyaan, antara ia meninggal karena penyakit psikis akut atau memang
karena kerasukan setan.
TEER
diliris pada bulan September 2005 lalu. Sutradaranya bernama Scott
Derrickson seorang penganut Kristen. Film ini dibuat berdasarkan kisah
nyata Anneliese Michel, seorang gadis Katolik Jerman yang mati pada
tahun 1976. Ia meninggal beberapa minggu setelah gagalnya upaya
pengusiran setan oleh pastor Richard Moore. Gereja Katolik sebenarnya
menghendaki eksorsisme tergantung dari kondisi orang yang kerasukan
setan dan sesuai permintaan si penderita. Namun telanjur sudah,
pengadilan memutuskan bahwa kematiannya disebabkan oleh penghentian
mengkonsumsi obat, sebagaimana saran Pastor Richard terhadap Emily.
Padahal penghentian itu dimaksudkan untuk memuluskan eksorsisme. Kisah
film ini menampilkan perjuangan pelepasan dari kekuatan supranatural
sehingga tampak sebagai film horor. Film ini skenarionya ditulis Scott
Derickson dan Paul Harris Boardman.
Gereja
Katolik secara resmi mengenali kerasukan setan pada diri gadis
mahasiswa berusia 19 tahun itu. Dengan alur flash back-nya, film ini
diawali dengan seorang pastor yang dituduh bersalah dan seorang
pengacara yang akan bertugas membelanya di pengadilan.
Pengacara
Erin Bruner didudukkan di antara Gereja dan negara ketika dia membela
hidup Pastor Richard Moore yang menjadi terdakwa. Erin harus menghadapi
dua lawan sekaligus, berhadapan dengan jaksa penuntut dan juga berperang
dengan setan yang pernah merasuki Emily. Sejak awal ia sadar bahwa
pembelaannya tak akan bagus. Erin mengambil kasus ini, dengan sedikit
keraguan, selain karena ingin mendapatkan posisi sebagai senior partner
di firma hukumnya. Pastor Richard menyetujui pembelaan Erin dengan
syarat, asal ia boleh melengkapi dengan menceritakan kisah Emily
sendiri. Padahal Pastor Richard dilarang memberi kesaksian oleh
Keuskupan dan lebih disarankan untuk mengakui kesalahannya. Karena
dengan pengakuan itu Erin mudah membela dan meringankan hukumannya.
Namun Pastor Richard bersikukuh dan Erin pun menerimanya.
Sidang
pun berlangsung dengan tampilnya kesaksian para dokter yang dihadirkan
jaksa penuntut, Ethan Thomas. Ethan Thomas ngotot Emily menderita
epilepsi dan penyakit jiwa (psikosis). Tetapi Erin keras kepala
membebaskan Pastor Richard.
Adegan
kemudian beralih ke flashback menunjukkan bagaimana awal kejadian
kerasukan. Seorang gadis sendirian di ruang tidurnya jam 3 dinihari, ia
mencium bau terbakar, mendengar suara gaduh dan melihat kotak pensilnya
bergerak-gerak sendiri. Gadis itu lalu berbaring lagi dan menarik
selimutnya, tetapi sebuah kekuatan besar menekan, seolah ada yang
menindihnya. Seperti halusinasi, ia menderita karena mendapatkan banyak
penglihatan yang menakutkan. Emily lalu di bawa ke rumah sakit dan
didiagnosa menderita penyakit jiwa. Maka, ia diberi obat anti psikotik.
Namun sebenarnya tak memperbaiki keadaannya. Penglihatan yang menakutkan
terus berlanjut, hingga mengakibatkan tubuhnya semakin melemah.
Emily
meninggalkan sekolahnya, pulang ke rumah orang tuanya. Ia dan orang
tuanya lama-lama sadar bahwa dirinya tidak sakit jiwa tetapi karena
kerasukan setan. Karena itu, keluarganya memutuskan memanggil pastor
paroki untuk mengupayakan pengusiran setan, dan pihak Gereja menyetujui.
Dalam pesidangan, pengalamannya dikatakan sebagai kombinasi antara
epilepsi (karena gejala kejang-kejang) dan psikosis (karena penglihatan
yang dialaminya).
Pengalaman
yang sama dialami Erin Bruner. Pembela Pastor ini mengalami kejadian
aneh jam 3 dini hari, saat ia mencium bau terbakar dan mendengar suara
yang gaduh. Pastor Richard menduga bahwa Erin juga diganggu setan. Dalam
film itu diceritakan bagaimana Pastor Richard menjelaskan bahwa jam 3
dini hari merupakan saat yang tepat ketika setan mengolok-olok
Tritunggal Mahakudus. Saat itu juga merupakan pertentangan dari jam 3
siang, jam ketika Yesus wafat.
Erin
merasa bahwa proses pengadilan diarahkan ke kasus medis belaka. Ia
berusaha keras untuk membuktikan bahwa Emily sungguh-sungguh kerasukan.
Erin Bruner memanggil saksi ahli seorang ahli antropologi bernama Dr.
Sidur Adani. Antropolog ini diminta menunjukkan aneka ragam aliran
kepercayaan yang meyakini adanya fenomena kerasukan yang memang bersifat
spiritual.
Di
tengah kebingungan Erin Bruner, tanpa disengaja, seorang dokter ahli
jiwa yang hadir saat eksorsisme, tiba-tiba menyerahkan rekaman audio
rahasianya. Dukungan bagi Erin untuk membuktikan bahwa kematian Emily
bukan bersifat medis pun bertambah. Pastor Richard yang selama ini
bungkam, akhirnya memberi kesaksian saat peristiwa eksorsisme
berlangsung.
Tampilan
film pun beralih ke saat dilangsungkannya eksorsisme, bersamaan dengan
diputarnya kaset rekaman. Kejadiannya tepat di malam Helloween, karena
Pastor Richard Moore percaya bahwa setan sangat mudah dihadirkan pada
malam itu. Pastor, kekasih dan ayah Emily ada di dalam kamar. Sementara
Emily terikat di tempat tidurnya. Pastor memercikkan air suci dan
mengucapkan aneka kutipan Kitab Suci. Emily membalasnya dengan suara
berat dan keras dengan aneka bahasa Latin, Jerman, Yahudi dan Aram.
Tiba-tiba beberapa ekor kucing meloncat ke arah sang Pastor hingga
membuatnya terjatuh. Emily melepas ikatan dan meloncat memecah kaca
jendela, keluar menuju kandang kuda. Mereka pun mengikuti Emily. Di
kandang kuda itu, Pastor membentak setan untuk menunjukkan dirinya.
Emily menyahut dengan suara keras bahwa ia dirasuki enam setan yang
pernah merasuki Nero, Yudas dan Kain. Nama setan itu disebutnya a ialah
“Legion” dan Belial. Dalam keadaan tak sadar itulah mulut Emily
mengeluarkan suara pernyataan si setan: “Saya Lucifer, setan dalam
daging !”
Penonton
dibawa kembali ke ruang sidang. Pastor Richard mengatakan bahwa setelah
gagal mengadakan pengusiran setan, ia menyarankan Emily menghentikan
pengobatan anti-psikosis-nya agar pengusiran setan lancar. Namun
kenyataannya, Emily Rose meninggal beberapa minggu berikutnya.
Erin
Bruner sebenarnya ingin menghadirkan dokter ahli jiwa yang hadir
bersama Pastor Richard saat berlangsungnya pengusiran setan. Tetapi sang
dokter sudah meninggal tak lama setelah menyerahkan kaset rekaman untuk
Erin. Sang dokter jiwa itu sempat mengatakan bahwa ia tak bisa
membuktikan, tetapi mengakui setan itu ada. Erin Bruner yang memberi
kesempatan Pastor bersaksi dipojokkan oleh pimpinannya. Pimpinan firma
hukum Erin Bruner akan merontokkan karirnya jika memberi kesempatan
Pastor Richard bersaksi lagi.
Pada
hari berikutnya Erin Bruner mengunjungi Pastor di penjara. Pastor
Richard menunjukkan surat yang ditulis Emily sebelum ia meninggal. Dalam
suratnya Emily mengisahkan aneka penglihatan yang dialaminya, pada pagi
hari sesudah malam pengusiran setan. Ia keluar rumah dan melihat Bunda
Maria yang menghampirinya. Bunda Maria mengatakan: “Meskipun setan tak
dapat keluar dari tubuhmu, kamu sebenarnya bisa memilih meninggalkan
tubuhmu dan penderitaanmu akan berakhir. Tetapi jika kamu membiarkan
setan tetap ada dalam tubuhmu dan menderita kerasukan sedemikian ini,
maka sesungguhnya kamu memberi bukti kepada banyak orang bahwa Tuhan dan
setan benar-benar ada”.
Adegan
berikutnya menampilkan jiwa Emily memilih menderita dengan kembali ke
dalam tubuhnya. Ini menunjukkan bahwa Emily rela menderita untuk memberi
kesaksian kepada dunia bahwa Tuhan dan setan sungguh ada. Emily
menuliskan akhir suratnya dengan kata-kata: “Orang berkata bahwa Tuhan
tidak ada, tetapi bagaimana mungkin mereka mengatakan itu bila saya
menunjukkan setan kepada banyak orang ?” Emily kemudian ditampilkan
menerima stigmata (luka seperti luka Yesus karena penyaliban di kedua
tangan dan kaki), yang dipercayai Pastor Richard sebagai suatu tanda
bahwa Tuhan sungguh mengasihi Emily. Namun jaksa penuntut mengolok
penjelasan itu bukan stigmata, melainkan karena Emily menyentuh kawat
berduri yang mengelilingi rumahnya.
Pastor
Richard tentu kecewa dengan olok-olok jaksa penuntut namun ia tetap
rendah hati. Jaksa penuntut menganggap Emily tak sedemikian sebagaimana
dikisahkan Pastor, karena yakin Emily tak sebodoh itu. Bahkan jaksa
mengajak peserta sidang untuk tidak mempercayai setan, meskipun ia
sebenarnya penganut Kristen Methodis. Erin Bruner yang bukan penganut
agama dan kepercayaan apapun tentu heran dengan pernyataan jaksa.
Meskipun bukan penganut agama, Erin Bruner meyakinkan tetap adanya dua
kemungkinan, Emily sungguh kerasukan setan atau menderita karena
penyakit jiwa. Ucapan Erin ini seolah mengajak penonton untuk menilai
sendiri apakah Emily kerasukan setan atau menderita penyakit jiwa.
Pengadilan
memutuskan vonis, Pastor Richard Moore memang bersalah tetapi ia tidak
dipenjara. Ia dinyatakan bersalah ketika menyuruh Emily Rose
menghentikan minum obat pemberian dokter. Padahal maksud Pastor Richard
penghentian minum obat itu untuk memuluskan proses pengusiran setan.
Pengusiran setan tidak akan berhasil jika obat penenang telah
mempengaruhi otak dan menghalangi fungsi otak. Pendapat ini dikuatkan
oleh pendapat Dr Sidur Adani, ahli antropologi. Rupanya penjelasan itu
tidak berarti bagi proses pengadilan. Karena dokter jiwa lainnya
bersikukuh mengatakan bahwa jika Emily meneruskan minum obat maka ia
tidak meninggal. Padahal kenyataannya tidak demikian, kondisi Emily
tidak berubah sekalipun meminum obat dokter. Karena memang ia
berkemungkinan kerasukan setan dan tidak butuh pengobatan dokter ahli
jiwa, melainkan pengusiran setan. Sayang sekali, keberadaan setan dalam
diri Emily dan upaya pengusiran setan oleh Pastor Richard seolah kalah
bukti di pengadilan.
Dengan
vonis itu, Erin Bruner dinyatakan sukses membela Pastor Richard Moore.
Tetapi ia menolak promosi dirinya sebagai senior parter di firma
hukumnya. Ia bersama Pastor Richard mengunjungi makan Emily. Di makam,
Erin Bruner dan Pastor Richard Moore merefleksikan apa yang dialami
dengan mengutip kalimat yang terukir di makam Emily dari kitab Filipi:
“kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar”
Film
TEER didasarkan dari kisah nyata seorang gadis muda bernama Anneliese
Michel, yang tinggal di Klingenberg, Jerman. Sebagaimana film TEER,
Anneliese mengalami penglihatan yang mengerikan dan dianggap sebagai
kerasukan setan. Ia juga mendapatkan pertolongan psikiater sebelum
beralih memohon pertolongan Gereja Katolik dan menjalani pengusiran
setan. Selama pengusiran setan, Anneliese mengaku dirasuki setan yang
hinggap dalam diri Kain, Nero, Judas, Hitler dan Lucifer. Anneliese juga
menuliskan kisahnya, bahwa ia bertemu dan berbincang-bincang dengan
Bunda Maria dan Yesus.
Diduga
karena menjalani pengusiran setan dan penghentian obat itulah,
Anneliese meninggal dunia pada tanggal 1 Juli 1976. Dua pastor yang
memimpin pengusiran setan, Pastor Alt dan Renz serta ayah Anneliese
dituduh bersalah karena memungkinkan terjadinya kematian. Mereka ditahan
selama 6 bulan. Kini, makam Anneliese justru menjadi tempat ziarah
tidak resmi. Kematian Anneliese memunculkan sikap bagi siapa mereka yang
percaya, bahwa Anneliese Michel meninggal karena menyerahkan dirinya
sebagai korban kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa Anneliese mengalami
kerasukan setan namun jiwanya yang suci tetap diselamatkan.
Kisah
hidup Anneliese Michel memang menarik perhatian dunia selama 30 tahun
terakhir sejak munculnya banyak tanggapan pro dan kontra, pasca
persidangan untuk para pastor dan ayahnya. Terlebih sejak 24 tahun lalu,
ketika buku karangan Dr. Felicitas D. Goodman berjudul The Exorcism of
Anneliese Michel diterbitkan. Dr. Felicitas memberikan reportase
antropologisnya, bukan novel, dan tinjauan kritis berdasar latar
belakang sains dan psikologi di balik kisah Anneliese. Buku itulah yang
menginspirasi film TEER. Dan Dr. Felicitas pun ditempatkan sebagai
konsultan kepala pembuatan film tersebut.
Sebagaimana
kisah nyatanya, film TEER bukan sekedar kisah pembunuhan murahan
terhadap gadis muda yang sedang tergantung obat-obatan. TEER tetap
mempertahankan keutuhan cerita dan mengajak penonton berpikir sendiri.
Penonton akan menemukan banyak pertanyaan. Film ini terbuka untuk
ditanggapi dengan pertimbangan penonton untuk percaya, tak percaya atau
ragu-ragu. Meskipun peristiwanya telah tuntas di pengadilan, namun
perbincangan mengenai apakah kerasukan setan itu nyata atau tidak,
tetaplah sangat menarik. Tentu dibutuhkan pendamping atau nara sumber
yang tepat untuk menjawab kegelisahan yang muncul setelah menontonnya
film ini.
Hingga
saat ini, Gereja Katolik mengakui bahwa kerasukan setan merupakan
peristiwa yang sangat nyata dan mungkin terjadi. Senjata ampuh untuk
melawan godaan setan yang ganas ialah doa. Inilah film segar yang patut
dilihat bagi orang Kristiani, khususnya para pastor, untuk menyaksikan
bagaimana pastor yang memiliki integritas peran justru menjadi terdakwa
Kenyataannya,
mayoritas orang berpendapat bahwa Anneliese Michel, sungguh mengalami
kerasukan setan. Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik no. 1172 artikel 1
mengakui itu dengan memberi catatan: “tiada seorang pun dengan legitim
melakukan eksorsisme terhadap orang yang kerasukan, kecuali jika telah
memperoleh ijin khusus dari Ordinaris wilayah”. Memang pada tanggal 16
September 1975, Uskup Wurzburg, Jerman, Josef Stangl memberikan ijin
untuk proses pengusiran setan baginya.
Katekismus
Gereja Katolik artikel 1673 menyatakan, “Kalau Gereja secara resmi dan
otoritatif berdoa atas nama Yesus Kristus, supaya seorang atau satu
benda dilindungi terhadap kekuatan musuh yang jahat dan dibebaskan dari
kekuasaannya, orang lalu berbicara tentang eksorsisme. Yesus telah
melakukan doa-doa semacam itu (Mrk 1:25-26); Gereja menerima dari Dia
kekuasaan dan tugas untuk melaksanakan eksorsisme (Mrk
3:15;6:7.13;16:17). Dalam bentuk sederhana eksorsisme dilakukan dalam
upacara Pembaptisan. Eksorsisme resmi atau yang dinamakan eksorsisme
besar hanya dapat dilakukan oleh seorang imam dan hanya dengan
persetujuan Uskup. Orang harus melakukannya dengan bijaksana dan harus
memegang teguh peraturan-peraturan yang disusun Gereja. Eksorsisme itu
digunakan untuk mengusir setan atau untuk membebaskan dari pengaruh
setan, berkat otoritas rohani yang Yesus percayakan kepada Gereja-Nya.
Lain sekali dengan penyakit-penyakit, terutama yang bersifat psikis;
untuk mengangani hal semacam itu adalah bidang kesehatan. Maka penting
bahwa sebelum seorang merayakan eksorsisme, ia harus mendapat kepastian
bagi dirinya bahwa yang dipersoalkan di sini adalah sungguh kehadiran
musuh yang jahat, dan bukan suatu penyakit (bdk. Codex Iuris Canonici,
can. 1172).”
Pada
tahun 1999 lalu, Cardinal Medina Estevez dalam jumpa persnya di Vatican
City menunjukkan versi baru tentang Rituale Romanun (Ritus Romawi) yang
telah dipakai oleh Gereja Katolik sejak tahun 1614. Versi baru ritus
tersebut diluncurkan setelah lebih dari 10 tahun proses redaksional,
yang kemudian disebut sebagai De Exorcismis et Supplicationibus
Quibusdam, yang dikenal sebagai The Exorcism for The Upcoming Millennium
(Pengusiran Setan untuk Menyambut Millenium Baru). Paus Yohanes Paulus
II memaklumkan ritus eksorsisme baru, yang sekarang digunakan di seluruh
dunia setelah 30 tahun kematian Anneliese Michel.
Konferensi
Para Uskup Katolik Amerika (United States Conference of Catholic
Bishop's) mengeluarkan pernyataan bahwa film TEER bukan film dangkal,
tetapi terkait erat dengan iman dan misteri tentang setan. Meskipun
kisah dalam film ini versi adaptasi yang memakai lokasi di kota-kota
Amerika dengan mengubah nama pelaku-pelaku utamanya, mengubah kejadian
dan kenyataan yang terjadi. Jadi sesungguhnya tidak 100 persen kisah
nyata.
Para
Uskup Katolik Amerika memuji sikap yang ditampilkan pengacara Erin
Bruner, seorang agnostik yang tidak percaya Tuhan dan setan. Tetapi
pengacara yang rendah hati itu berusaha keras membela Pastor Richard.
Pengacara itu juga berupaya memenangkan Gereja Katolik, yang sebenarnya
ingin menyimpan kasus dan menghalangi Pastor Richard bersaksi. Sosok
Erin Bruner, seorang yang tak percaya setan dan berubah jadi ragu-ragu
akan hal tersebut, menjadi cermin betapa ada kecenderungan spiritual
terdalam dalam diri setiap orang. Lewat perannya, pengacara perempuan
itu berupaya mengalahkan jaksa penuntut bernama Ethan Thomas. Jaksa
beragama Kristen Methodis justru menolak ide pengusiran setan dari
Gereja Katolik dan hendak melecehkan iman dengan argumen medis, nyata
dan rasional. Demikianlah film ini menjadi menarik, karena kerasukan
setan memang ambigu, namun bukan tidak nyata.
Para
Uskup Katolik Amerika memuji kisah naratif film TEER tetap menghormati
ritus dan ritual Katolik. Lain dengan film-film terdahulu yang
menampilkan Gereja Katolik namun terkesan seenaknya, seperti film The
Exorcist, The Prequel to the Exorcist serta House of Exorcism. Para
Uskup Amerika menggaribawahi refleksi terbaru, bahwa penderitaan Emily
Rose sebagai pengorbanan diri laksana martir. Refleksi tersebut
mengandung arti bahwa percaya kepada Tuhan, kadangkala diteguhkan atau
paling tidak harus difasilitasi dengan menampilkan keberadaan setan.
Kantor Konferensi Para Uskup Katolik Amerika untuk urusan Film dan
Penyiaran mengklasifikasikan film ini sebagai A III, untuk dewasa. The
Motion Picture Association mengkategorikan sebagai PG-13, dimana orang
tua harus sungguh memberi bimbingan. Banyak adegan yang tak boleh
disaksikan oleh anak dibawah umur 13 tahun. Meskipun tetap ada
kekurangan, Para Uskup Katolik Amerika menilai: The Exorcism of Emily
Rose sebagai film yang dibuat dengan baik dan cerdas, membawa sebuah
pesan dan tidak dimaksudkan untuk membingungkan orang. Bagaimana dengan
anda?

0 komentar:
Posting Komentar